Pandangan Gus Miftah dengan Langkah Presiden Prabowo Gabung Board of Peace

Kabarbintang.com - Tokoh Agama Yang Juga Dikenal Dekat Dengan Kalangan Selebriti, Miftah Maulana Habiburohman Atau Yang Akrab Disapa Gus Miftah, Memberikan Pan

Pandangan Gus Miftah dengan Langkah Presiden Prabowo Gabung Board of Peace

Kabarbintang.com - Tokoh Agama Yang Juga Dikenal Dekat Dengan Kalangan Selebriti, Miftah Maulana Habiburohman Atau Yang Akrab Disapa Gus Miftah, Memberikan Pandangannya Terkait Langkah Strategis Presiden Prabowo Subianto Dalam Menyikapi Konflik Di Gaza. Gus Miftah Menilai Keputusan Indonesia Bergabung Dengan Board Of Peace (bop) Pada Awal Tahun 2026 Merupakan Sebuah Langkah Taktis Yang Tepat Dan Berani Di Tengah Kompleksitas Konflik Yang Tak Kunjung Usai.

Dalam Tulisannya, Gus Miftah Menyoroti Peran Aktif Indonesia Di Kancah Internasional Di Bawah Kepemimpinan Presiden Prabowo. Indonesia Tidak Hanya Bergabung Dengan Bop Yang Merupakan Inisiatif Internasional Untuk Perdamaian Gaza, Tetapi Juga Bersiap Mengirimkan Pasukan Tni Dalam Jumlah Yang Signifikan.

"keputusan Indonesia Untuk Bergabung Dengan Board Of Peace (bop) Pada Awal 2026 Adalah Sebuah Inisiatif Internasional Untuk Perdamaian Dan Stabilisasi Gaza Dan Bersiap Mengirimkan 5.000 Hingga 8.000 Personel Tni, Merupakan Langkah Taktis Yang Tidak Hanya Berani, Tetapi Juga Sangat Tepat Secara Geopolitik Dan Kemanusiaan," Tulisnya Lewat Rilis Yang Diterima Kabarbintang, Kamis (19/2/2026).

Akses Artike Seputar Gus Miftah Di Kabarbintang.com.

1. Tanggapan Gus Miftah

Gus Miftah Menjelaskan Bahwa Langkah Ini Melampaui Sekadar Retorika Diplomasi. Selama Ini, Indonesia Konsisten Menyuarakan Perdamaian Di Palestina, Namun Krisis Di Gaza Membutuhkan Aksi Yang Lebih Konkret. Bergabungnya Indonesia Ke Dalam Bop Dipandang Sebagai Upaya "menjemput Bola" Untuk Menjadi Bagian Dari Solusi, Bukan Sekadar Penonton.

"kenapa Taktis? Karena Posisi Indonesia Tidak Lagi Hanya Sebagai Pengamat Atau Pemberi Bantuan Logistik Jarak Jauh, Tetapi Menjadi Aktor Kunci Yang Duduk Di Meja Perundingan Dan Turun Langsung Di Lapangan. Indonesia Menunjukkan Bahwa Kita Adalah Bagian Dari Solusi, Bukan Bagian Dari Masalah," Lanjut Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji Tersebut.

2. Murni Sebagai Misi Kemanusiaan

Pemerintah Menegaskan Bahwa Keikutsertaan Ini Murni Untuk Misi Kemanusiaan Dan Mendukung Kemerdekaan Palestina, Bukan Bentuk Normalisasi Politik Dengan Pihak Lain. Kehadiran Tni Di Gaza Melalui International Stabilization Force (isf) Bertujuan Untuk Menjaga Stabilitas Dan Membantu Rekonstruksi Wilayah Yang Hancur Akibat Perang.

"alasannya Terletak Pada Prinsip: Bagaimana Bisa Membela Kedaulatan Palestina Jika Tidak Berada Di Dalam 'ruang' Di Mana Nasib Gaza Ditentukan? Dengan Masuk Ke Dalam Sistem, Indonesia Memastikan Agenda Perlindungan Warga Palestina Tetap Menjadi Prioritas Utama," Jelas Gus Miftah.

3. Gus Miftah Tepis Kekhawatiran

Pengiriman 5.000 Hingga 8.000 Personel Tni Juga Bukan Keputusan Sembarangan. Pasukan Yang Dikirim Adalah Mereka Yang Berpengalaman, Termasuk Veteran Unifil, Yang Fokus Pada Bantuan Teknis Dan Medis. Ini Merupakan Bentuk Smart Power Indonesia Dalam Menggabungkan Kekuatan Militer Dengan Misi Kemanusiaan.

Gus Miftah Juga Menepis Kekhawatiran Bahwa Langkah Ini Akan Berujung Pada Normalisasi Hubungan Dengan Israel. Ia Menegaskan Bahwa Presiden Prabowo Konsisten Pada Pendiriannya Mendukung Kemerdekaan Palestina. Kehadiran Indonesia Di Bop Justru Menjadi "penjaga Moral" Agar Hak-hak Rakyat Palestina Tidak Terabaikan Dalam Proses Perdamaian.

4. Karakter Presiden Prabowo Di Mata Gus Miftah

Mengakhiri Pandangannya, Gus Miftah Memuji Karakter Kepemimpinan Presiden Prabowo Yang Berani Mengambil Risiko Dan Berorientasi Pada Hasil Nyata. Menurutnya, Di Era Diplomasi Modern, Negara Yang Ragu Mengambil Posisi Akan Tertinggal Oleh Sejarah. Langkah Ini Dinilai Memperkokoh Posisi Indonesia Sebagai Pemimpin Dalam Upaya Stabilisasi Global Dan Menjaga Martabat Palestina.

"kehadiran Tni Di Gaza Nantinya Melalui Skema International Stabilization Force (isf) Adalah Jaminan Fisik Bahwa Proses Perdamaian Tidak Akan Mengabaikan Hak-hak Dasar Rakyat Palestina. Ini Adalah Langkah Politik Praktis Demi Tujuan Idealis," Tegasnya.